Generasi Sampah, Sekolah Jadi Sarang LC

Advertisement

 

natura oil squa

Generasi Sampah, Sekolah Jadi Sarang LC

Admin
Senin, 18 Mei 2026

Mari kita amati dengan saksama kondisi pendidikan di Indonesia hari ini. Ada pengalihan fungsi yang luar biasa miris, di mana gedung-gedung sekolah perlahan berubah peran. Institusi yang sejatinya didirikan sebagai kawah candradimuka untuk mendidik dan mencetak Generasi Emas, kini lebih sering terlihat seperti panggung hiburan. Sekolah tidak lagi menjadi medan laga untuk menguji kecerdasan, melainkan arena kompetisi tertentu: lomba tentang yang paling viral.

Jika kita membuka media sosial hari ini, wajah asli pendidikan kita akan terpampang dengan transparan. Batas estetika antara lembaga pendidikan formal dan manajemen artis kini menjadi sangat tipis. Begitu banyak anak sekolah yang tampak sangat mahir dan percaya diri tampil di kamera depan, mengejar sorot lampu digital, namun sayangnya membiarkan isi otak mereka kosong. Mereka bangga memamerkan eksistensi tanpa memedulikan kualitas esensial diri.

Injeksi Dopamin dan Kecanduan Validasi

Fenomena ini secara psikologis dapat disebut sebagai validasi kecanduan. Setiap kali murid dan guru berkolaborasi membuat konten joget, lalu video tersebut menuai angka penonton yang masif, saat itulah otak mereka mendapatkan injeksi dopamin secara instan. Perasaan senang itu memicu adiksi.

Ketika video menembus algoritma, masuk ke beranda (FYP), dan menghasilkan ratusan ribu tombol suka, orientasi pun perlahan bergeser.

Target utama di sekolah bukan lagi berburu ilmu, melainkan mengejar tepuk tangan di kolom komentar. Bukan lagi mengejar prestasi nyata, melainkan menghargai pujian semu dari netizen. Di titik inilah, harga diri dan marwah profesi guru digadaikan demi angka digital di layar gawai.

Tentu saja kita layak merasa cemas. Jangan-jangan budaya instan para pejabat atau budayawan yang gemar mencari sensasi di masa dewasa, akarnya berasal dari pembiaran hal sepele ini sejak masa sekolah.

Saya pernah menemukan video anak usia Sekolah Dasar (SD) berjoget dengan gerakan dewasa di depan kamera. Secara rasional, anak seusia itu seharusnya sedang sibuk mengasah kemampuan membaca, menulis, dan memahami logika dasar.

Sangat naif jika kita menganggap fenomena ini murni inisiatif anak. Pasti ada arahan, persetujuan, atau minimal pembiaran dari orang dewasa. Kalimat seperti, “Ayo Nak, jangan malu, joget saja biar ramai,” atau pembelaan dari oknum guru seperti, “Ini kan cuma lucu-lucuan biar sekolah dikenal,” telah menjadi racun yang menjustifikasi logika berpikir kita.

Kreativitas Palsu dalam Format “Jedag-Jedug”

Pembelaan bahwa konten joget adalah bagian dari “lucu-lucuan” atau “pendekatan emosional” sama sekali tidak masuk akal. Menjadi lucu atau dekat dengan murid tidak menuntut guru menjadi badut. Banyak cara edukatif yang humoris namun tetap cerdas.

Mengapa pendekatan yang dipilih selalu berujung pada koreografi TikTok yang tujuannya murni mencari panggung?

Saat ini, “viral” telah berubah menjadi standar sukses tunggal. Jika sebuah video viral, pelakunya dianggap berhasil. Tren ini mengalihkan perhatian dari fakta bahwa pendidikan kita sedang mengidap penyakit kronis. Bagaimana fondasi sekolah bisa menjadi bangsa jika fondasinya rapuh?

Semua ini sering dibungkus dengan dalih “menumbuhkan kreativitas anak.” Namun, dari rumus mana kita menyimpulkan bahwa anak yang jago mengikuti tren visual otomatis kreatif?

Itu bukan kreativitas; itu hanya replikasi template yang sama, diulang oleh jutaan orang.

Ironisnya, sekolah kita masih beroperasi seperti pabrik fotokopi. Guru mendikte, murid mencatat tanpa paham. Guru memberi soal, murid menghafal. Setelah ujian, semua menguap. Siklus kosong ini terus berulang. Perubahan yang tidak teratur ratusan kali pun tidak akan berdampak jika sistem pengajaran hanya melahirkan generasi berijazah tetapi logika tuna.

Alarm Keras: Hilangnya Logika Dasar

Dampak nyata sudah terlihat. Kita sering melihat remaja usia SMA yang tidak mampu menjawab pertanyaan matematika dasar seperti 4×7, 5×5, atau 3×9.

Itu bukan sekadar video lucu—itu alarm keras yang berputar.

Jika dibandingkan generasi 80-an atau 90-an, pertanyaan seperti itu bisa dijawab dalam hitungan detik. Bahkan pertanyaan terbalik seperti “21 itu hasil dari berapa kali berapa?” atau “akar dari 25 berapa?” kini bisa membuat kebingungan panjang.

Ini bukan karena anak-anak sekarang bodoh, tetapi karena sistem pengajaran kehilangan esensi. Guru merasa terbebani selesai dengan mengajar formal, dan murid merasa cukup hadir. Sekolah pun terjebak dalam rutinitas kosong.

Kembalikan Marwah Profesi Pendidik

Kritik ini tidak menggeneralisasi semua guru. Banyak guru hebat yang mengajar dengan hati dan dedikasi. Namun, suara mereka sering tenggelam oleh sensasi oknum hunter.

Sangat miris melihat ada pendidik yang lebih bangga kontennya viral dibandingkan muridnya yang berprestasi.

Guru seharusnya menjadi rem arus digital, bukan penumpang arus. Anak-anak adalah cerminan lingkungan. Jika guru haus validasi, murid akan meniru.

Mengajar bukan sekadar memindahkan teks dari buku ke papan tulis, lalu ke buku catatan murid. Mengajar adalah membangun cara berpikir.

Tidak ada anak bodoh di dunia ini; yang ada adalah anak yang belum menemukan metode belajar yang tepat. Masalahnya bukan pada otak mereka, tetapi pada cara kita mengajar.

Refleksi Akhir: Batasan Etis Profesi

Guru adalah manusia yang butuh hiburan. Namun, ada batasan etisnya. Kita tidak melihat pilot berjoget di kokpit atau dokter membuat konten di ruang operasi. Mengapa? Karena mereka memahami tanggung jawab profesinya.

Jika seorang pendidik haus validasi digital, dulu melepaskan seragamnya. Karena selama seragam itu melekat, ia membawa wajah pendidikan bangsa.

Untuk kalian para pelajar: kalian akan menyesal jika masa sekolah sia-sia mengejar viralitas, bukan ilmu. Viral itu sementara, tapi kutukan yang dipertahankan bisa bertahan lama.

Gunakan akal sehat, logika, etika, dan moral. Jika guru tidak mengajar dengan benar, kalian berhak menuntut ilmu dan memahami sampai tuntas.

Ingat:

Tidak semua yang viral itu sehat.

Tidak semua yang ramai itu benar.

Mari kita benahi cara berpikir kita—jangan menjadi generasi yang bangga dipuji di dunia maya, tetapi kosong di dalam kepala.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar